Proses panjang dinamika internal di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) akhirnya mencapai titik terang setelah berbagai elemen pimpinan organisasi melakukan rekonsiliasi atau islah. Ketegangan yang sempat memecah barisan kepengurusan kini mulai mereda, dan Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf — biasa disapa Gus Yahya — menyatakan bahwa konflik internal telah selesai dan siap melangkah menuju penyelenggaraan Muktamar NU. NU Online+1
1. Latar Belakang Konflik Internal PBNU
Sejak November 2025, konflik internal PBNU meningkat tajam setelah Dewan Syuriyah PBNU yang dipimpin Rais Aam KH Miftachul Akhyar menyatakan ketidaksetujuan terhadap kepemimpinan Gus Yahya dan menyerukan langkah tertentu terhadap jabatan Ketum PBNU. Pencabutan jabatan Ketum secara sepihak menjadi salah satu momen yang memicu perdebatan di internal organisasi. detiknews
Perbedaan pandangan yang awalnya sempat memicu desakan penggantian pimpinan ini berkaitan dengan beberapa persoalan internal termasuk dinamika undangan akademikus asing yang kontroversial, serta respons terhadap prosedur organisasi. detiknews
2. Peran Forum Islah dan Para Kiai Sepuh
Islah yang disepakati adalah hasil dari rangkaian pertemuan yang lebih besar diprakarsai oleh jajaran Syuriyah, Mustasyar, dan tokoh kiai sepuh NU di pesantren-pesantren terkenal seperti Lirboyo, Ploso, dan Tebuireng. Pertemuan puncaknya berlangsung di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, pada 25 Desember 2025, dengan melibatkan Rais Aam dan Gus Yahya secara langsung. NU Online
Dalam forum ini, kedua pihak secara bersama sepakat bahwa konflik internal bisa diselesaikan lewat cara shalihiyah, yakni silaturahim, tabayun, dan dialog yang dibimbing oleh tokoh senior organisasi. Hasilnya adalah rekonsiliasi yang menempatkan hubungan organisasi kembali ke rel yang lebih damai. ANTARA News
3. Gus Yahya: Islah Rampung dan Persoalan Selesai
Usai pertemuan intensif tersebut, Gus Yahya menyampaikan kepada media bahwa semua persoalan internal sudah dianggap selesai dan tidak lagi menjadi halangan dalam kegiatan organisasi. Ia menegaskan bahwa PBNU kembali ke suasana kebersamaan yang menjadi ruh jam’iyah Nahdlatul Ulama. Antara News Jawa Timur
“Semua hal yang kemarin menjadi persoalan, kita anggap sudah lewat, sudah tidak ada, dan kita kembali lagi kepada kebersamaan,” ujar Gus Yahya kepada awak media usai pertemuan di Surabaya. The Jakarta Post
Selain itu, struktur kepengurusan pun sudah kembali ke kondisi awal dan tercipta suasana guyub antarpengurus. Tidak hanya sekadar formalitas, hal ini menandai bahwa tensi konflik telah menurun signifikan. NU Online
4. Siap Muktamar NU: Langkah Lanjut Pascaislah
Dengan islah yang dinyatakan selesai, Gus Yahya menegaskan bahwa pihaknya siap menggelar Muktamar NU kapan pun keputusan itu disepakati oleh pihak Rais Aam dan jajaran organisasi lainnya. Muktamar merupakan forum permusyawaratan tertinggi NU untuk mengevaluasi kinerja organisasi, memilih kepengurusan baru, serta menetapkan arah organisasi selanjutnya. law-justice.co
Namun ia juga menekankan bahwa Muktamar bukan sekadar soal waktu, tetapi memerlukan proses persiapan yang matang: koordinasi struktur organisasi, pembentukan panitia, hingga kesepakatan teknis antara pihak-pihak terkait masih harus diselesaikan secara bersama-sama. law-justice.co
Wakil Ketua Umum PBNU dan Sekjen juga menyatakan bahwa kemungkinan Muktamar Ke-35 NU akan digelar pada pertengahan 2026 mendatang, walaupun tanggal pasti belum ditentukan secara formal. law-justice.co
5. Implikasi dan Harapan Organisasi
Pernyataan siap Muktamar ini menjadi sinyal kuat bahwa PBNU ingin menyelesaikan konflik internal secara konstitusional melalui forum tertinggi organisasi, yaitu Muktamar, bukan lewat konflik struktural. Muktamar yang akan datang dipandang sebagai momentum penting untuk mengkonsolidasikan kembali organisasi menjelang usia dua abad NU pada Januari 2026. ANTARA News
Temu ini juga menjadi pelajaran bahwa penyelesaian konflik dalam organisasi besar seperti NU mensyaratkan musyawarah, keberanian tokoh senior untuk menjadi mediator, serta komitmen seluruh pihak untuk menjaga ukhuwah jama’iyah. ANTARA News