Bencana banjir disertai longsor yang melanda beberapa wilayah di Aceh pada akhir November 2025 terus menelan korban jiwa. Data terbaru yang dirilis oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah korban meninggal dunia meningkat menjadi 102 orang, sementara 116 orang masih dilaporkan hilang.
Kronologi dan Dampak Bencana
Banjir bandang dan longsor terjadi akibat curah hujan ekstrem yang melanda Aceh sejak 25 November 2025. Beberapa daerah terdampak parah seperti Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Aceh Tenggara mengalami kerusakan hebat, dengan rumah-rumah terendam air dan jalan-jalan tertutup lumpur serta material longsor.
Menurut laporan BNPB:
-
Lebih dari 2.500 rumah mengalami kerusakan, sebagian besar di zona terdampak longsor.
-
Infrastruktur jalan dan jembatan banyak yang rusak berat, menyulitkan akses tim penyelamat.
-
Ribuan warga terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Upaya Penanganan dan Pencarian Korban
Tim SAR gabungan yang terdiri dari Basarnas, TNI, Polri, dan relawan terus melakukan pencarian terhadap 116 orang yang masih hilang. Evakuasi menjadi prioritas utama, meski kondisi medan dan cuaca yang tidak bersahabat memperlambat proses pencarian.
Kepala Basarnas Aceh, Drs. Arifin, menyatakan:
“Kami terus berupaya keras menggunakan alat berat dan tim penyelamat untuk menjangkau titik-titik terdampak. Prioritas kami adalah menemukan para korban hilang secepat mungkin dan memberikan bantuan bagi para pengungsi.” (bnpb.go.id)
Penyebab dan Faktor Pendukung
Banjir dan longsor ini sebagian besar disebabkan oleh intensitas hujan yang sangat tinggi, yang dipicu oleh fenomena cuaca ekstrem La Niña yang berlangsung lebih lama dari perkiraan. Selain itu, kondisi lingkungan seperti penggundulan hutan dan tata ruang yang kurang baik memperparah risiko longsor.
Ahli klimatologi Universitas Syiah Kuala, Dr. Rina Sari, menambahkan:
“Perubahan iklim global telah memengaruhi pola curah hujan di Aceh, meningkatkan frekuensi kejadian banjir dan longsor. Penanganan mitigasi risiko harus segera diintensifkan untuk mengurangi dampak bencana serupa di masa depan.” (syiahkuala.ac.id)
Bantuan dan Respons Pemerintah
Pemerintah pusat dan provinsi Aceh telah menyalurkan bantuan darurat berupa makanan, air bersih, obat-obatan, serta perlengkapan pengungsian. Presiden Republik Indonesia, dalam keterangan persnya, menginstruksikan koordinasi penuh antar lembaga terkait untuk percepatan penanganan bencana dan pemulihan wilayah terdampak.
Beberapa lembaga sosial dan organisasi kemanusiaan juga membuka posko bantuan dan menggalang donasi untuk mendukung korban banjir longsor.
Imbauan dan Harapan
Masyarakat dihimbau untuk tetap waspada terhadap potensi banjir susulan dan longsor, terutama di daerah rawan. Selain itu, penting bagi semua pihak untuk bersama-sama melakukan langkah mitigasi dan menjaga lingkungan agar kejadian serupa dapat diminimalisasi.
Kesimpulan
Banjir dan longsor Aceh yang terjadi pada akhir November 2025 merupakan bencana besar yang membawa duka mendalam bagi masyarakat dan pemerintah. Dengan korban tewas mencapai 102 orang dan masih 116 orang hilang, penanganan darurat dan pencarian korban harus menjadi prioritas utama. Penanggulangan bencana yang lebih baik dan kesadaran akan perubahan iklim menjadi kunci untuk mencegah tragedi serupa di masa depan.